Data kapal tanker menggeser retorika politik sebagai sinyal utama di pasar minyak
Pasar minyak praktis tidak lagi bereaksi terhadap retorika geopolitik Presiden AS Donald Trump; para trader kini lebih memantau pergerakan kapal tanker secara nyata dan tarif angkut yang mencapai rekor tertinggi, demikian dilaporkan Bloomberg.
Intervensi verbal dari Washington sebagian besar telah kehilangan pengaruhnya. Meskipun ancaman Gedung Putih pada bulan April untuk mengembalikan Iran ke "Zaman Batu" sempat memicu kenaikan harga minyak Brent sekitar 7%, pernyataan serupa pada bulan Oktober justru diabaikan. Para investor, yang sudah lelah dengan "permainan rolet geopolitik", kini lebih mengandalkan data pasokan fisik secara real-time.
Logistik, bukan politik, yang menjadi masalah utamanya. Data Clarkson menunjukkan bahwa tarif sewa kapal VLCC untuk rute Teluk-Tiongkok telah melonjak dari $65.000 menjadi sekitar $1,6 juta per hari, sehingga mendorong biaya pengiriman per barel dari wilayah tersebut naik dari $2 menjadi $33. Akibatnya, terjadi anomali harga yang mencolok: harga fisik *Dated Brent* diperdagangkan di kisaran $135,74 per barel, sementara harga kontrak berjangka berada di dekat angka $100.
Di tengah situasi tersebut, para investor tradisional dengan cepat mengurangi posisi mereka. Open interest (jumlah kontrak yang belum diselesaikan) pada kontrak berjangka Brent telah turun ke level terendah sejak Maret 2025, dan kendali pasar beralih ke algoritma perdagangan CTA, yang cenderung memperbesar volatilitas teknis.
Meskipun Departemen Keuangan AS baru-baru ini menjatuhkan sanksi terhadap 17 kapal yang terkait dengan armada bayangan Iran, arus fisik minyak yang melewati Selat Hormuz telah pulih ke angka sekitar 14,2 juta barel per hari, atau sekitar 80% dari volume sebelum konflik. Secara keseluruhan, kekurangan pasokan minyak mentah global telah berkurang: Energy Aspects memperkirakan bahwa celah pasokan telah menyusut dari 4 juta barel per hari pada bulan Mei menjadi sekitar 1,6 juta barel per hari.